Diarsipkan di bawah: Humaniora
Akhir-akhir ini pernah terpikir, apakah jurnalis yang berada di daerah sudah mulai kehilangan idealismenya, ataukah salahnya media dalam memilih sumber daya manusianya. Keberadaan mereka (jurnalis) saat ini bergitu meresahkan saya. Bagaimana tidak jika berita-berita yang mereka tulis bukan lagi merupakan tulisan atau liputan mereka sendiri, bahkan foto yang mereka muat banyak yang merupakan hasil dari “mengemis” dari media atau pihak lain. Mungkin ini masih subyektifitas saya sendiri, namun kejadian demikian bukan hal baru lagi bagi jurnalis di daerah. Para jurnalis begitu malas mencari berita dan lebih mengandalkan pihak lain yang mencarinya.
Hal yang paling menjengkelkan saya adalah tentang pemuatan foto liputan yang dimuat tanpa ijin dan tanpa adanya penulisan sumber. Saat itu saya sedang meliput sebuah event regional dan hunting foto untuk koleksi pribadi (sekedar hoby) setelah acara selesai beberapa wartawan konttributor daerah datang kepada saya dan dengan terus terang dan tanpa malu-malu mereka mengemis foto kepada saya. Yang terlontar dalam omongan saya hanya kata “silahkan” karena saya berfikir mereka mngerti tentang etika pemuatan berita. Namun kenyataannya lain. Pada terbitan esoknya koran tersebut memuat foto saya tanpa menuliskan sumber foto. Lain lagi dengan sebuah media yang mengaku terbesar di daerah mereka memuat foto di halaman depan dan menjadi Head Line tanpa ijin dan sumber. Ini merupakan sebuah pembajakan, sebuah kemunduran moral yang dilakukan oleh orang yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut.
Yang terparah adalah sebuah media yang mengaku terbut ke sekian kalinya dan terbit setiap bulan namun yang saya lihat dan pernah saya baca hanya edisi tersebut. Dengan seenaknya dan tanpa ada rasa bersalah mereka mencuri foto dari sebuah blog pribadi. Akhirnya sang pemilik blog tersebut mengetahuinya dan menuntuk adanya kompensasi dari media tersebut. Kompensasi yang diminta adalah permohonan maaf melalui media lokal, dan satu halaman penuh media tersebut dalam edisi selanjutnya. Serta untuk materi hanya terkena tuntutan satu juta rupiah.
Hal-hal tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi bila media tempat mereka bernaung melakukan fungsi kontrol. Dan terlebih penting adalah mereka sendiri para jurnalis yang harus menjaga idealisme dan menjunjung tinggi etika penulisan. Inilah potert buram jurnalis daerah. Semoga lebih maju kedepannya
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>




