Diarsipkan di bawah: Humaniora
Kepada Yth. Sdr. Roy Suryo
ditempat
Perihal: Ajakan Dialog Terbuka Mengenai Perkembangan dan Isu Blogger Indonesia.
Mengingat
Banyaknya aspirasi para blogger yang tertuang dalam blognya masing-masing mengenai ketidaksetujuan atas komentar-komentar Sdr. Roy Suryo di media massa yang cenderung selalu memojokkan blogger.
Menimbang
Perlunya tindakan untuk meluruskan informasi-informasi yang diberikan Sdr. Roy Suryo kepada media massa, khususnya mengenai pandangan negatif Sdr. Roy Suryo kepada blogger.
Memutuskan & Menetapkan
Perlu dilakukannya dialog terbuka dengan Sdr. Roy Suryo mengenai isu-isu yang berkembang saat ini, khususnya isu-isu yang selalu menyudutkan blogger serta informasi-informasi lain yang secara umum cenderung membodohi masyarakat. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Humaniora
Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah puisi tentang cinta. Puisinya sebenarnya begitu menggelitik, namun juga sempat memberikan sebuah wacana baru dalam pikiran saya. Secara singkat puisi tersebut bercerita Putus Cinta Hal ini, yaitu putus cinta merupakan hal yang tidak ingin dialami oleh siapa saja. angankan dialami, mendengarnya saja hati kita sudah miris.
Putus cinta ini akan memberikan kita sebuah pengalaman berharga, yaitu kedewasaan, walaupun seringkali kedewasaan itu tidak bisa mengerti cinta…
Yang paling susah dimengerti adalah ketika orang dewasa putus cinta.. Mereka yang mengaku sudah dewasa ketika putus cinta-pun akan menjadi seperti anak-anak kembali…
Ya menangis, merengek, dan yang paling parah adalah ingin bunuh diri.. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Humaniora
Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), bagi sebagian orang Indonesia adalah sebuah dambaan, meskipun bagi sebagian lagi yang lain mungkin keengganan. Menjadi dambaan banyak orang sehingga antrean pengambil formulir pendaftaran CPNS selalu membludak setiap tahun. Orang merelakan apapun yang dia miliki untuk menjadi seorang PNS, baik uang puluhan juta rupiah, harga diri, dsb. Meskipun sudah ada upaya dari pemerintah untuk memperbaiki masalah rekrutmen PNS, baik melalui hukuman dan perbaikan sistem, tapi tetap saja masalah sogok, suap, atau apalah namanya adalah fakta yang terjadi di masyarakat.
Alhamdulillah saya tidak perlu melewati itu semua, karena kebetulan saya menjadi PNS bukan lewat jalur penerimaan biasa, tapi lewat beasiswa sekolah luar negeri dalam program STAID (sebelumnya bernama OFP dan STMDP) yang diinisiasi pak Habibie. Well, meskipun saya tidak pernah bercita-cita menjadi PNS, saya harus ikhlas melaksanakan perjanjian yang dulu saya buat sebelum berangkat ke Jepang. Dan secara dewasa saya harus mengakui bahwa ini adalah jalur jalan kehidupan saya, paling tidak sampai ikatan dinas 2n+1 saya berakhir. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Humaniora
Akhir-akhir ini pernah terpikir, apakah jurnalis yang berada di daerah sudah mulai kehilangan idealismenya, ataukah salahnya media dalam memilih sumber daya manusianya. Keberadaan mereka (jurnalis) saat ini bergitu meresahkan saya. Bagaimana tidak jika berita-berita yang mereka tulis bukan lagi merupakan tulisan atau liputan mereka sendiri, bahkan foto yang mereka muat banyak yang merupakan hasil dari “mengemis” dari media atau pihak lain. Mungkin ini masih subyektifitas saya sendiri, namun kejadian demikian bukan hal baru lagi bagi jurnalis di daerah. Para jurnalis begitu malas mencari berita dan lebih mengandalkan pihak lain yang mencarinya. (lagi…)




